Wujud Ya'juj dan Ma'juj
Dalam mitologi Yunani Ya'juj dan Ma'juj digambarkan sebagai manusia kurcaci bernama Hobbit yang memperbutkan cincin yang telah lama hilang setelah dibuat di dalam kawah gunung berapi Mount Doom oleh Sauron alias Zulkarnain dalam pemahaman Abrahamik.
Ketika Bilbo yang sudah tua mewariskan cincin tersebut kepada keponakannya, Frodo Baggins, di kawasan pedesaan yang damai (The Shire). Penyihir Gandalf the Grey menyadari bahwa Cincin Utama telah bangkit kembali dan Sauron sedang mengirim sembilan penunggang kuda hitam gaib (Nazgûl) untuk merebutnya. Satu-satunya cara untuk memusnahkan Sauron secara permanen adalah dengan membawa Cincin Utama kembali ke tempat ditempanya di kawah Mount Doom, jantung wilayah musuh (Mordor) dan melemparkannya ke dalam lahar.
Sementara seluruh pasukan manusia bertaruh nyawa di Gerbang Hitam untuk memancing perhatian pasukan Sauron. Frodo dan Sam berhasil menyusup ke puncak Mount Doom. Namun di detik terakhir, pengaruh sihir Cincin Utama begitu kuat hingga merusak pikiran Frodo, membuatnya menolak menghancurkan cincin itu dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Saat Frodo memakai Cincin tersebut, Gollum menyerang dan menggigit putus jari Frodo. Dalam kegembiraannya memegang kembali Cincin Utama, Gollum hilang keseimbangan dan jatuh terpeleset ke dalam lahar panas Mount Doom, sebuah gunung yang diyakini masih tertimbun dengan salju Antartika.
Dalam sudut pandang Abrahamik Raja Dhu al-Qarnain alias Zulkarnain ditugaskan tuhan untuk ke ujung barat tempat matahari terbenam (Ia mendapati matahari seolah-olah terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan ia menegakkan hukum yang adil di antara penduduk wilayah itu) dan ujung timur tempat matahari terbit (Ia menemui daerah yang sangat gersang dan terbuka. Tempat tersebut tidak memiliki bangunan rumah ataupun pepohonan yang bisa dijadikan tempat beralih atau berlindung dari terik matahari), serta ke kawasan celah dua gunung (Bainas-Saddain) yang diyakini tempat bertemunya dengan komunitas lokal terisolasi dan tertindas oleh ancaman rutin dari Ya'juj dan Ma'juj yang saat ini tertutup oleh es Antartika.
Ketika Dhu al-Qarnain tiba di antara dua dinding gunung tersebut, ia mendapati suatu kaum yang tinggal di baliknya. Dari sudut pandang komunikasinya, mereka adalah makhluk yang hampir tidak mengerti bahasa (la yakaduna yafqahuan qawla).
Meskipun ada hambatan bahasa, mereka berhasil menyampaikan penderitaan dan ketakutan mendalam mereka kepada Dhu al-Qarnain mengenai kerusakan masif yang dilakukan oleh Ya'juj dan Ma'juj setiap kali mereka keluar menjarah.
Dhu al-Qarnain kemudian mengerahkan keahlian teknik dan tenaga kerja massal untuk membangun sebuah mahakarya pertahanan arsitektur, ia mengumpulkan potongan-potongan besi hingga setara dengan ketinggian puncak kedua gunung tersebut, Ia menyuruh para pekerjanya meniup api hingga besi itu membara merah seperti api. Setelah itu, ia menuangkan tembaga cair (qithr) ke atas tumpukan besi tersebut agar celah-celahnya menyatu secara sempurna, licin, dan sangat kokoh.
Setelah tembok raksasa itu selesai dan Ya'juj dan Ma'juj terkurung rapat sehingga tidak mampu lagi memanjat atau melubanginya.
Namun apakah ada yang mengehatuhi makhluk itu apa? Dari istilah berdasarkan arti kata Yajuj/Ajiij (kobaran api) dan Maaj- uj(gelombang-air) maka dapat disimpulkan bahwa Ya'juj dan Ma'juj merupakan makhluk tuhan yang berwujud Api dan Air
